JANJI TUHAN TERWUJUD DALAM KARYA-NYA

Sabtu, 21 Januari 2017

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab: Keluaran 6 : 1 – 7

Dalam perikop bacaan Alkitab pagi ini (ayat 4-7) ada tiga kali pernyataan “Akulah TUHAN” dan berulang kali Tuhan menyatakan “Aku akan”. Pernyataan-pernyataan itu Tuhan nyatakan kepada Musa dalam rangka membangkitkan harapan dalam diri Musa yang bertubi-tubi dihujat oleh orang-orang Israel. Musa diteguhkan bahwa Tuhan tidak lupa akan perjanjian-Nya dengan Abraham tentang Kanaan (bdk. Kej. 15:18-21), Kej. 17:8). Tuhan juga menyatakan bahwa Ia mendengar erangan Israel, mengatakan bahwa Ia mengingat perjanjian-Nya dengan para leluhur Israel (ay 4b).

Pernyataan “Akulah TUHAN” dan “Aku akan” hendak menyadarkan Musa dan Israel bahwa Tuhan Allah bagi Israel seharusnya bukanlah Tuhan Allah yang mati (yang sering digantikan oleh umat Israel dengan patung baal, patung lembu emas, dll), melainkan Tuhan Allah yang hidup, yang bekerja, yang penuh dinamika. Kehadiran-Nya mewujud dalam tindakan, karya-karya nyata. Israel akan mengenal Tuhan Allah dari karya-karya-Nya bagi Israel.

Di sepanjang sejarah umat Israel menyaksikan bahwa Tuhan Allah menyatakan dan memperkenalkan diri-Nya dengan karya-karya-Nya. Hal itu menjadi semakin jelas dan terbuka melalui kehadiran dan karya-karya Yesus Kristus bagi manusia dan dunia ini.

Bukankah kitapun mengenal dan percaya kepada “Yesus Kristus” karena tindakan dan karya keselamatan serta teladan kasih yang disaksikan-Nya? Dan semua itu yang kita layankan dan saksikan kepada sesama dan dunia.

JANGAN MEMPROTES TUHAN

Jumat, 20 Januari 2017

Renungan Malam

Bacaan Alkitab: Keluaran 5 : 22 – 24

Proses jelang dibebaskannya umat Israel dari perbudakan di Mesir diwarnai dengan “protes” Musa kepada Tuhan: “mengapakah Kauperlakukan umat ini begitu bengis?”. Hal itu terjadi karena reaksi Firaun pasca Musa dan Harun menghadap raja Mesir itu. Dia mengeluarkan kebijakan dan perintah yang membuat penderitaan orang Israel justru semakin berat.

Mungkin kitapun akan bertanya “mengapa umat Israel telah bersedia mengikuti jalan Tuhan, tetapi penderitaan mereka justru semakin bertambah?” Kenyataan ini sangat bertentangan dengan pengajaran “rohani” populer masa kini yang mengajarkan bahwa setiap orang yang mau mengikut Tuhan Yesus pasti bebas dari tekanan dan problem hidup, segala penyakit hilang dengan minyak tertentu yang telah didoakan, usaha/bisnis akan lancar, dsb.

Mengapa dalam kisah ini Tuhan mengijinkan penderitaan itu dialami oleh umat yang telah bersedia mengikuti petunjuk-Nya? Mengapa penderitaan mereka bukannya menjadi ringan, namun justru rnenjadi semakin berat? Apakah Dia sedang tidak peduli dan sedang mengalihkan perhatian-Nya?.

Sebagai orang percaya, kita tak perlu meragukan Tuhan. Realitas itu dialami umat lsrael justru Karena Tuhan memperhatikan umat-Nya [Kel .4:5). Selama kita hidup dan berjalan dalam kebenaran Firman-Nya dengan taat dan setia, maka Dia pasti menolong kita pada waktu yang tepat (ay 24). Sebab Dia tidak akan pernah mengalihkan perhatian-Nya dan hidup setiap orang yang mengandalkan dan berharap pada-Nya. Memprotes Tuhan menandakan kita meragukan kuasa-Nya.

 

HADAPI TANTANGAN TANPA AMARAH

Jumat, 20 Januari 2017

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab: Keluaran 5 : 1 – 21

Marah dan frustrasi karena upaya ingin segera menjatuhkan lawan namun gagal membuat petinju kelas berat Mike Tyson menggigit telinga kanan lawannya Evander Holyfield. Sekitar satu inci daging telinga kanan Holyfield terlepas dan jatuh di depan wasit. Sikap yang salah saat menghadapi kegagalan dan kesulitan mengalahkan lawan dengan cepat.

Demikian sikap para mandor Israel (ay 20-21), yang marah kepada Musa dan Harun akibat tekanan berat yang dialami orang Israel oleh kebijakan Firaun. Musa dan Harun menjadi sasaran kemarahan sekalipun mereka tidak salah.

Para mandor itu mengharapkan keberhasilan secara “instan” saat mereka telah menaati perintah Tuhan. Namun saat kenyataan berbeda dengan angan-angan dan harapan, mereka menjadi kecewa, frustrasi dan marah.

Jalan mencapai tujuan yang Tuhan tunjukkan bisa panjang bisa juga pendek, bisa sebentar bisa juga lama.Karena Tuhan ingin berproses bersama umat-Nya, bukan instan. Yang hendak disaksikan di sini bukanlah hidup berorientasi pada tujuan (dengan menghalalkan segala cara), melainkan ketekunan dan kesabaran umat berproses bersama Tuhan menjalani masa depan yang baik, bijaksana dan tanpa emosi amarah.

Kitapun bisa jatuh ke dalam pemahaman yang keliru, yaitu jika telah melibatkan Tuhan (melalui doa dan ibadah) maka semua jalan akan dimudahkan dan dilancarkan. Ternyata Tuhan kita tidak mengajarkan jalan seperti itu. Ia mau menjadikan kita pribadi yang siap dan tangguh menghadapi realita kehidupan.

 

MENYEMBAH TUHAN DENGAN BENAR

Kamis, 19 Januari 2017

Renungan Malam

Bacaan Alkitab: Keluaran 4 : 27 – 31

Apa yang memotivasi para pemimpin bangsa Israel berlutut dan sujud menyembah Tuhan? Pertama, karena mereka percaya kepada perkataan Tuhan yang disampaikan Musa dan Harun yang disertai dengan tanda-tanda ajaib. Kedua, mereka mendengar bahwa Allah berempati atas kesengsaraan yang mendera mereka. Tentu tidaklah salah sikap dari para pemimpin Israel itu, setelah sekian lama ditindas dan diperbudak di Mesir Tuhan akan melepaskan mereka dari derita itu.

Apakah dasar penyembahan kita kepada Tuhan juga harus dimotivasi dengan melihat aneka tanda ajaib dan hal-hal yang menyenangkan hati kita terlebih dahulu? Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kita harus menyembah Tuhan dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:24). Kita harus menyembah Allah di dalam dan melalui Yesus Kristus, karena Yesus Kristus adalah jalan kebenaran dan yang lahir dari Roh Allah sendiri.

Bagi orang percaya, sujud menyembah Tuhan bukan karena “Tuhan akan” memberkati atau menyelamatkan kita dari berbagai problematika kehidupan dan dosa, melainkan karena “Tuhan telah” menyelamatkan kita dan berjanji menyertai kita selamanya. Jadi sikap sujud dan menyembah Tuhan itu bukan menekankan pada sikap fisik, melainkan sikap batin pada rasa cinta kasih, kagum dan hormat kepada Tuhan atas segala hal yang Tuhan sudah dan akan dikerjakan oleh-Nya.

Kita tidak perlu melihat berbagai tanda ajaib atau mendengar berkat-berkat yang akan Dia berikan, karena Dia sudah membuktikan semua itu. Ia rela menanggung derita supaya kita menjadi berbahagia, Ia rela miskin supaya kita menjadi kaya, Ia rela menjadi hina dan tertolak supaya kita menjadi mulia dan diterima.

 

TUHAN TELADAN SEJATI

Kamis, 19 Januari 2017

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab: Keluaran 4 : 18 – 26

Mengapa Allah murka kepada Musa, sampai-sampai la berikhtiar untuk membunuhnya? (ay 24). Dia murka saat perintah-Nya diabaikan Musa, dan perintah itu adalah perintah-Nya yang sangat prinsip dan mendasar. Allah telah memerintahkan Abraham untuk menyunat setiap anak laki-laki keturunan Abraham pada hari ke delapan (Kej. 17:12).

Bagi Tuhan, sunat merupakan “tanda perjanjian” antara Allah dengan Abraham dan keturunannya. Itu adalah ketetapan Allah. Pelanggaran atau melalaikan ketetapan tersebut sama dengan upaya membatalkan atau merusak “tanda perjanjian” yang telah dicanangkan Allah. Musa lalai melaksanakan ketetapan itu kepada anak lelakinya yang kedua (ayat 20 menyatakan bahwa Musa membawa “anak-anaknya lelaki, ” berarti lebih dari satu anak lelaki), yang mungkin usianya telah lewat 8 hari namun belum juga disunat.

Sebagai seorang pemimpin umat Tuhan, Musa wajib menaati perintah Tuhan. Jika sebagai seorang pemimpin tidak taat, bagaimana mungkin dia dapat membina dan mengarahkan umat yang dipimpinnya untuk taat? Dalam hal ini Tuhan tidak mau misi-Nya gagal karena ketiadaan teladan dari pemimpin umat.

Yesus adalah teladan sempurna seorang pemimpin. Kepemimpinannya ditunjukkan dengan jalan memberi teladan kehidupan. Di dalam Yesus kita belajar tentang figur yang senantiasa menjadikan diri dan kehidupan-Nya sebagai teladan moralitas.

Meneladani hati dan karakter Yesus akan menjadikan kita seorang pemimpin yang baik. Kepemimpinan model itu akan menjadikan dunia ini lebih baik, dengan menjadi orang-orang yang memberi pengaruh positif kepada dunia. Jika Tuhan mempercayakan saudara sebagai pemimpin dalam keluarga, di tempat kerja, di pelayanan gereja maupun masyarakat, jadikan diri saudara sebagai teladan moralitas.

 

LIDAH KITA SEBAGAI INSTRUMEN ALLAH

Rabu, 18 Januari 2017

Renungan Malam

Bacaan Alkitab: Keluaran 4 : 10 – 17

Meskipun Tuhan telah mendemonstrasikan kuasa-Nya di depan mata Musa agar ia benar-benar percaya akan penyertaan-Nya (ay. 1-9), namun masih belum cukup meyakinkan dia. Musa merasa ada banyak hal dalam dirinya yang sama sekali tidak memenuhi kriteria pemimpin bangsa yang besar. Sekalipun Tuhan telah meyakinkan mengatakan bahwa lidah manusia itu buatan Tuhan. Lidah Musa hanya “instrument” di tangan Tuhan, Sang Pencipta.

Saat Tuhan memanggil dan mengutus sipapun juga untuk melaksanakan misinya, Ia tidak mencari dan menetapkan orang yang “siap pakai”. Ia memanggil orang yang bersedia dibentuk oleh-Nya untuk menjalankan misi. Karena misi itu adalah misi-Nya, bukan misi Musa, bukan juga misi kita. Tuhan sendirilah yang akan membentuk dan mengendalikan lidah kita untuk berkata benar seperti yang Tuhan maksud.

Lidah sebagai instrumen Tuhan adalah lidah yang berbicara untuk mendatangkan kebaikan bagi banyak orang, lidah yang meneguhkan iman dan pengharapan orang yang sedang lemah. Lidah itu yang akan selalu mengucapkan syukur, lidah yang tidak akan mungkin mengeluarkan kata-kata kasar, memaki, menghasut dan berdusta.

Lidah model itu jika “terpasang” di mulut suami-istri pasti akan menyuarakan kata-kata penuh kasih mesra yang menjauhkan dari pertengkaran, kemarahan, kebencian yang berujung disharmoni dalam keluarga.

Lidah itu juga adalah lidah orang tua yang mengajar anak-anak berdoa, bernyanyi memuji dan memuliakan Tuhan dan menyuarakan nasihat hikmat.

 

JANGAN TOLAK PANGGILAN TUHAN

Rabu, 18 Januari 2017

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab: Keluaran 4 : 1 – 9

Pengalaman pahit atau trauma masa lalu Musa yang disebabkan oleh orang Israel (Kel. 2:14), membuatnya menolak panggilan Tuhan karena merasa tidak layak untuk membawa umat-Nya keluar dari Mesir. Musa, menghendaki jika Tuhan menugaskan dirinya memimpin umat Israel, ia meminta kepastian umat Israel benar-benar percaya dan bersedia mendengar perkataannya (ay.1). Menjawab permintaan Musa ini Tuhan mendemonstrasikan kuasa-Nya dengan memberikan dua tanda, yaitu tongkat yang menjadi ular dan tangan yang menjadi putih oleh kusta. Bahkan IA juga menjanjikan jika orang Israel masih tidak percaya juga, maka dia dapat mengubah air dari sungai Nil menjadi darah untuk meyakinkan mereka. Namun Musa belum yakin dan tetap tidak mau percaya serta menganggap dirinya tidak layak.

Demonstrasi tanda-tanda mujizat itu Tuhan nyatakan dengan tujuan untuk menegaskan serta meneguhkan Musa dalam melaksanakan kepemimpinannya atas umat Israel. Namun tidaklah mudah mengubah seseorang yang traumatis.

Pikiran dan perasaan atas peristiwa masa lalu atau masa kini yang menyakitkan kadang dapat membuat kita meragukan kuasa dan kekuatan Tuhan.

Dari penyataan Tuhan dan penolakan Musa ini kita belajar:

  1. Tantangan dan persoalan hidup yang pernah atau sedang kita alami tidak harus menjadikan kita menutup mata dan telinga rohani terhadap panggilan dan pengutusan Allah.
  2. Panggilan dan pengutusan Allah yang ditujukan kepada Musa itu menyadarkan kita bahwa kitapun sebenarnya tidak layak menerima anugerah keselamatan dari-Nya. Tuhanlah yang melayakkan kita.
  3. Kesadaran akan ketidaklayakan kita itu akan menjadikan kita semakin percaya dan hidup bergantung pada-Nya.

 

ALLAH PEDULI

Selasa, 17 Januari 2017

Renungan Malam

Bacaan Alkitab: Keluaran 2 : 23 – 25

Pernahkah kita merasa Tuhan hanya berdiam diri saja saat kita sedang didera dengan berbagai kesusahan atau tekanan dalam hidup? Mengapa hidup orang percaya juga harus penuh dengan berbagai kemalangan? Mengapa kesulitan selalu mewarnai hidup ini? Demikianlah beberapa pertanyaan mendasar yang dapat muncul di hati orang yang hidupnya tengah dirundung berbagai kesusahan. Lalu, bagaimana menjelaskan hal ini, entah kepada anggota keluarga kita atau kepada orang lain.

Sekalipun Firaun telah mati, namun penderitaan Israel karena perbudakan tidak berakhir seiring dengan kematiannya itu. Hal ini menyebabkan mereka bersehati berdoa dengan sungguh-sungguh menyampaikan kepada Tuhan atas apa yang mereka alami dan rasakan.

Bagaimana respon Tuhan atas doa mereka yang sungguh-sungguh itu? Ada empat kata kerja yang menggambarkan respon Allah terhadap doa umat-Nya, yaitu; Tuhan mendengar, mengingat, melihat, memperhatikan (ayat 24,25). Tuhan tidak akan pernah lupa pada janjinya untuk menyertai umat-Nya yang setia dan taat kepada-Nya. Hal ini dibuktikan lewat perlindungan Allah kepada Musa yang akan Dia panggil dan utus untuk membebaskan Israel. la juga tidak pernah menutup telinga dan mata-Nya terhadap seluruh perkataan dan perbuatan manusia, baik untuk perkataan dan perbuatan yang benar ataupun yang salah di hadapan-Nya maupun sesama. Ia Mahatahu atas seluruh sepak terjang kita.

Dia adalah Allah yang berempati (turut merasakan) dan partisipatif (turut ambil bagian) dalam pergumulan hidup umat-Nya. Dia adalah Allah yang sangat peduli dan mengasihi kita, bahkan dunia ini (bdk. Yoh. 3:16). Dia sangat mengharapkan respon yang sama dari kita. Nyatakanlah itu dalam setiap doa kita atas segala sesuatu. Jika selaras dengan janji-Nya, maka Dia pasti mengabulkannya, bahkan melebihi dari yang kita kehendaki.

 

HIDUP MENJALANI MISI ALLAH

Selasa, 17 Januari 2017

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab: Keluaran 2 : 11 – 22

Perjalanan hidup Musa yang telah tumbuh dewasa diwarnai dengan aneka peristiwa yang unik dan mengejutkan, yang dikisahkan dalam perikop bacaan ini, yaitu:

  1.  Musa membunuh orang Mesir dengan sengaja untuk menolong orang Israel dengan tujuan agar saudara-saudaranya akan mengerti, bahwa Allah memakai dia untuk menyelamatkan mereka, tetapi mereka tidak mengerti”. (bdk Kis. 7:24,25).
  2. Terjadi perkelahian antar sesama orang Israel di tengah penderitaan dan penindasan oleh orang Mesir.
  3. Ada rencana Firaun untuk membunuh Musa karena pembunuhan yang dilakukan Musa terhadap Orang Mesir.
  4. Musa melarikan diri ke Midian. Di sana ia bekerja keras, menemukan jodohnya, Zipora dan dikaruniai anak Gersom. Arti nama Gersom adalah “pendatang di negeri asing”.

Penamaan tersebut bahwa Musa tidak melupakan misinya dan ia tidak mau melupakan misinya. Padahal sebetulnya ada banyak hal yang bisa menyebabkan Musa melupakan misinya: Waktu yang lama (sekitar 40 tahun) di Midian; Bebas dari ancaman dan tekanan Firaun; Hidup tenteram bersama keluarga; Hidup dalam zona nyaman yang berkecukupan.

Tetapi ternyata semua hal itu tidak membuat Musa melupakan misinya. Tuhan menempa Musa dengan berbagai pengalaman hidup yang menyenangkan tetapi juga yang menegangkan.

Kitapun dipanggil dan diutus Tuhan untuk menjadi alat di tangan-Nya untuk hidup menjalankan misi-Nya dengan melayani dan bersaksi bagi-Nya di tengah keluarga dan masyarakat. Apakah kita pernah mempunyai misi yang Tuhan berikan kepada kita, tetapi kemudian kita tinggalkan dan abaikan ? Kenikmatan dan kenyamanan atau tantangan dan tekanan hidup yang mendera kehidupan kita, tidak boleh menjadi pembenaran bagi kita untuk meninggalkan atau mengabaikan misi Tuhan bagi kita, baik selaku pribadi, bersama keluarga dan gereja di tengah dinamika kehidupan masyarakat dimana kita hadir.

 

HIDUP DALAM RANCANGAN ALLAH

Senin, 16 Januari 2017

Renungan Malam

Bacaan Alkitab: Keluaran 2 : 7 – 10

Perikop bacaan Alkitab malam ini menyaksikan bahwa Tuhan menyatakan penyertaan-Nya serta memberi berkat yang luar biasa di tengah berbagai tantangan dan kesukaran. Sekarang bukan saja Musa selamat, tetapi juga ibu kandung Musa bisa menyusui, mengasuh dan tumbuh bersama anaknya sendiri, dan bahkan mendapatkan upah untuk itu!

Niat Firaun untuk terus menguasai Israel tidak pernah surut. Tetapi Allah penguasa alam semesta, dan segala isinya bekerja dengan cara-Nya yang luar biasa. Bayi Musa justru dijadikan sebagai anak angkat dan dibesarkan di istana Firaun.

Sungguh tak terduga dan terselami cara Allah bekerja dalam rangka mempersiapkan Musa untuk melakukan tugasnya nanti menjadi alat di tangan-Nya sebagai pembebas dan pemimpin bangsa Israel.

Rancangan Allah untuk menyelamatkan orang Israel dari perbudakan di Mesir itu berlanjut terus dengan rancangan-Nya yang lebih besar, menyelamatkan manusia dari perbudakan kuasa dosa. Rancangan Allah ini mungkin bisa direcoki dan dihambat manusia, tetapi tak dapat dibatalkan, apalagi digagalkan oleh kekuatan dan kuasa yang ada pada mereka. Memang perintah Firaun ada banyak bayi yang mati dibunuh, tetapi Musa tidak tersentuh karena Tuhan hendak memakai dia. Ini sama dengan jaman Yesus. Pasti banyak bayi di Betlehem yang mati dibunuh atas perintah penguasa pada masa itu, Herodes (Mat 2:16-18), tetapi Yesus tidak bisa mati, karena Tuhan mempunyai rencana bahwa Ia harus mati di salib untuk menebus dosa kita. Semakin jelas bahwa rancangan oleh manusia dengan segala kekuatan dan kekuasaan dan daya yang ada padanya.

Kita harus memercayakan hidup kita di tangan Tuhan, karena Dialah yang mengatur segalanya agar rancangan-Nya yang terbaik itu terjadi pada hidup kita. Tetaplah setia dan taat.