TUHAN ADALAH BAGIANKU

Rabu, 29 Maret 2017

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab : Ratapan 3 : 24 – 36

“Tuhan adalah bagianku.” demikianlah penyair mencatatnya. Dalam kehidupan bangsa Israel, khususnya ketika mereka memasuki tanah Kanaan, setiap suku menerima sebagian dari tanah itu. Kecuali imam-imam, tidak menerima bagian sebab Tuhanlah bagian mereka. Artinya, penyair tidak akan dipusingkan oleh hal-hal lain. Seperti Pemazmur mengatakan, “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya” (Maz. 73:26). Apa pun tidak akan menggoyahkannya, Allah adalah satu-satunya pegangan hidup. Bukan berarti yang lain tidak penting.

Bagi orang percaya, Allah itulah yang kekal. Allah tidak dibatasi waktu karena itu, penyair meletakkan Allah di atas segala-galanya. Allah di atas persoalan kita. Allah lebih besar dan pergumulan kita. Kesesakan tidak bisa dihindari tetapi Allah yang menjadi bagian kita adalah Allah yang memberi kelegaan. Apalagi dikatakan bahwa tidak dengan rela hati la menindas dan merisaukan anak-anak manusia. Dengan demikian, adalah penting jika kita juga menjadikan Tuhan sebagai bagian dan hidup kita. Supaya kita lebih lega dalam menjalani kehidupan ini. Kasih-Nya menjangkau kita. la akan membuat kita menjadi lebih bijaksana, lebih dewasa, lebih kuat, lebih lega, lebih ikhlas.

Anda akan merasakan kehadiran Tuhan sekali pun badai hidup melanda karena Dia sudah menjadi bagian hidupmu. Tidak ada seorang pun yang dapat merampasnya. Bersukacitalah karena Dia. Kalau Tuhan menjadi bagian hidup kita, tentunya kita dapat menemukan Dia di tengah-tengah kemelut hidup ini. Memang tidak mungkin mengetahui segala sesuatu tentang Dia. Tetapi kita tahu bahwa di dalam Dia ada kasih dan setia, ada pengampunan, ada pertolongan, ada kekuatan, ada keselamatan dan semua yang kita butuhkan. Selamat memasuki hari baru. Tuhan Mahabaik dan Mahaadil.

 

DENGARLAH YA, TUHAN

Selasa, 28 Maret 2017

Renungan Malam

Bacaan Alkitab : Ratapan 3 : 1 – 23

Tuhan dimanakah Engkau ketika aku membutuhkan-Mu: demikianlah seruan ratapan umat Israel. Penyair, dalam perenungan pribadinya merasa Tuhan telah menutup telinga-Nya. Bukan itu saja, ia juga merasakan tubuhnya dan batinnya terluka. Tuhan pun seakan-akan menyembunyikan wajah-Nya dan enggan mendengarkan seruan umat-Nya. Bahkan dikatakan Tuhan membelenggu hidupnya dan membuat penyair, seakan-akan, menjadi bulan-bulanan orang lain. la menjadi celaan dan cercaan. Masih panjang perjalanan umat Israel, baik di tanah Yehuda mau pun ditanah Babel.

“Dengarlah ya, Tuhan,” demikianlah seruan umat. Memohon kepada Tuhan untuk didengar dan meminta supaya diperhatikan. Sekarang Tuhan dicari siang dan malam. Kalau dulu Tuhan diabaikan sekarang Ia disongsong dengan begitu hebat. Pada perikop ini kita melihat penyair menuliskan kata-kata yang menyejukkan hati, penuh pengharapan tentang kasih setia Tuhan. Bahkan dikatakan, “Besar kesetiaan-Mu.” Ternyata dalam kekelaman penghukuman itu, penyair tidak dapat percaya bahwa Tuhan meninggalkan dia secara mutlak. Penderitaannya belum berakhir, penghukuman belum selesai tetapi ia mampu menggambarkan kasih setia Tuhan.

Pengharapan tidak boleh hilang. Itu harus dibuktikan ketika kesusahan, kesengsaraan dan pergumulan mewarnai kehidupan kita. Maksudnya, berpengharapan meskipun pergumulan datang bertubi-tubi. Akhirnya, kita semua memerlukan pengampunan dan belas kasihan Tuhan. Masuklah ke dalam hadirat-Nya, di malam ini, datanglah kepada Dia yang akan memberikan ketegaan di tengah tekanan hidup Anda. Biarlah kita bisa berkata, ‘Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”

 

KEMBALILAH KEPADA-KU

Selasa, 28 Maret 2017

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab : Ratapan 2 : 17 – 22

Telah tiba waktunya bagi Tuhan untuk melaksanakan kehendak-Nya. Tidak ada yang dapat menghentikannya. Kesabaran-Nya sudah habis karena umat-Nya tak kunjung bertobat. Dalam keruntuhan Yerusalem. Tuhan bicara. Ia menunjukkan siapa Ia sesungguhnya. Dialah Tuhan, yang murka-Nya tak dapat ditahan-tahan. Siapa yang dapat menolaknya? Puteri Sion berteriak dengan nyaring, mengerang mohon Tuhan menghentikan murka-Nya, Percuma berteriak, firman-Nya terlaksana. Anak-anak manusia bergelimpangan di tanah karena tak tahan akan penghukuman Tuhan. Tumbang dan lenyap tanpa ada yang bisa menghentikannya.

Inilah pembelajaran penting bagi kita semua. Jangan meremehkan perkataan Tuhan. Bangsa Israel sudah berkali-kali diingatkan Tuhan melalui para Nabi. Mereka tidak juga berubah, bahkan semakin berani dan terang-terangan menyembah berhala. Mereka membiarkan dirinya menjadi musuh Allah. Bukankah terkadang kita menempatkan diri sebagai “musuh Allah”? Kita secara terbuka menentang-Nya. Kitab Ratapan ini membuat kita semakin menyadari bahwa Tuhan tidak sudi dipermainkan. Kehancuran Yerusalem adalah akibat dosa dan perbuatan mereka karena Tuhan tidak sembarangan menjatuhkan hukuman. Di balik dahsyatnya semua penghukuman itu, pasti ada hikmahnya.

Ingatlah, ketika murka Tuhan itu menyala-nyala terhadap Sion, itu tidak berarti Tuhan memutuskan hubungan-Nya dengan umat-Nya. Marilah dengan hati yang menyesal kita memulai hari ini. Undang Tuhan dalam hidup Anda untuk menemani dan mengawali Anda di sepanjang had ini supaya dijauhkan dari segala macam bentuk dosa. Marilah berjalan dalam pimpinan Allah. Marilah berjalan di jalan Allah karena jalan-Nya adalah jalan keselamatan.

 

HANYA TUHAN YANG DAPAT MENOLONG

Senin, 27 Maret 2017

Renungan Malam

Bacaan Alkitab : Ratapan 2 : 11 – 16

Ungkapan kesedihan yang mendalam dapat kita lihat dari tuturan sang penyair kitab Ratapan ini. Rasa-rasanya sudah terkuras habis air mats mereka menyaksikan lautan keruntuhan ini. Fatal, tidak ada harapan, demikianlah kalau bisa dikatakan.”Siapa yang bisa memulihkan ini semua?” demikianlah nada pedih yang terdengar. Kota indah yang menjulang permai kini menjadi tertawaan musuh. Umat Israel tidak bisa berbuat apa-apa tatkala hinaan itu dilontarkan. Lalu, dimanakah Tuhan dapat ditemui? Mengapa hukuman itu sangat menyiksa? Beginilah rasanya jika dicampakkan dari hadapan-Nya. Beginilah rasanya jika ditinggalkan Tuhan. Lalu, apa yang harus dilakukan oleh umat Israel? Koreksi dari dan kembali kepada Tuhan. Mereka jangan lagi menyalahkan bangsa lain, apalagi menyalahkan Tuhan.

Ya, dalam situasi ini kita bisa saja kecewa dan marah kepada Tuhan. Tetapi kembali ke jalan yang benar, itu harus. Tidak ada kata terlambat untuk kembali kepada-Nya. Kadang-kadang kita tidak mengerti cara Tuhan ketika Ia menegur kita. Bisa saja la membuat kita pontang-panting. Tetapi dalam situasi seperti itu, kita tidak kehilangan pengharapan. Jungkir balik mungkin, tetapi kita sadar tangan Tuhan tetap memegang kita. Itulah perjalanan hidup orang beriman. Tidak ada yang dapat menolong kita kecuali Tuhan. Apa yang kita baca di dalam kitab Ratapan ini, seharusnya membuat kita semakin kuat dan semakin memahami Tuhan. Di sinilah kita melihat bahwa hukuman Tuhan itu mutlak.

Dalam menjalani hidup ini, selalu ada koreksi yang Tuhan ingin tunjukkan walau kadang-kadang kita tidak siap untuk dikoreksi. Tidak jarang kita menjadi terkejut dan terpana. Jangan memberontak tetapi berikanlah kepada Dia, hatil yang mau mengakui kesalahan dan dosa. Kiranya kita semua rela dikoreksi oleh Tuhan.

 

BERGANTUNG SEPENUHNYA PADA TUHAN

Senin, 27 Maret 2017

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab : Ratapan 2 : 1 – 10

Puteri Sion diselubungi awan murka Tuhan. Yerusalem dirundung duka. Keadaannya menyedihkan. Ratap tangis bersanding dengan murka Allah yang meluap-luap. Siapakah yang dapat tahan?Apa yang bisa dilakukan oleh manusia? Tuhan menempatkan diri-Nya sebagai musuh yang membinasakan tanpa ampun. Para lawan bersorak-sorak karena Tuhan menyerahkan Yerusalem dan Bait Suci untuk diduduki. Tidak ada lagi kebanggaan sebagai umat Allah. Benarkah tidak ada secercah harapan bagi umat Israel? Di manakah Tuhan ketika umat-Nya menjadi tertawaan bangsa-bangsa lain? Apalagi ketika Bait Suci porak-poranda. Tuhan tidak bersemayam di sana. Tuhan tidak ada di tengah-tengah umat-Nya.

Tuhan itu benar, sekalipun kehendak-Nya tidak mudah kita pahami. Yerusalem jatuh dan Bait Allah hancur, itu kenyataan yang harus dihadapi. Tetapi sadarkah mereka bahwa sumber kehancuran itu disebabkan oleh dirinya sendiri. Mereka memberontak dan tidak setia kepada Tuhan. Bukankah Yerusalem sering diingatkan oleh para nabi? Melalui peristiwa ini Tuhan menunjukkan bahwa jika umat tidak setia kepada-Nya, maka Dia dapat mengambil segala sesuatu yang diberikan-Nya. Lalu apa yang mau kita katakan tentang semuanya itu? Jangan menggantungkan hidup ini pada berhala-berhala atau pada kekuatan yang lain. Jangan menduakan Tuhan dalam hidup ini. Percaya sepenuhnya. Bergantung sepenuhnya pada Dia. Hendaknya kita sadar bahwa kita bukan siapa-siapa. Kita hanya hidup dalam rahmat dan belas kasihan-Nya.

Pagi ini, saatnya berseru kepada Tuhan dan memohon belas kasihan-Nya. Luangkan waktu sejenak. Anda akan mendapatkan bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang suka mengampuni. Sesungguhnya Ia setia dan penuh rahmat. Oleh sebab itu, bergantunglah sepenuhnya kepada Tuhan.

 

TUHAN MENDENGARKAN ENGKAU

Minggu, 26 Maret 2017

Renungan Malam

Bacaan Alkitab : Ratapan 1 : 20 – 22

Hati siapa yang tidak akan menangis melihat kehancuran negerinya. Hati siapa yang tidak akan terkoyak melihat kota yang ditinggalinya menjadi luluhlantak? Apalagi ketika dikatakan bahwa semua kehancuran itu disebabkan oleh dosa-dosanya. Tidak ada lagi kemilau Sion dan semarak Yerusalem. Sekarang yang tersisa hanyalah penyesalan, amarah, takut, kecewa dan sakit hati. Luapan perasaannya terluang dalam dialognya dengan Tuhan. Ada yang tidak mengerti mengapa mereka harus mengalami kehancuran? Ada yang menginginkan Tuhan menumpahkan amarahnya kepada musuh-musuh mereka sebab musuh-musuh itu jahat, dan harus menjadi sama seperti Yerusalem yang diruntuhkan. Ada pula yang melihatnya sebagai kekalahan Tuhan melawan dewa-dewa Babel.

Mengapa Tuhan? Seringkali kita pun bertanya demikian. Kita perlu merenungkan segala sesuatu. Apa yang sesungguhnya Tuhan inginkan lewat berbagai persoalan yang datang dalam hidup kita. Tidak jarang, Tuhan seakan-akan membiarkan musuh kita melumat kita, dan tidak ada penghiburan dari Tuhan. Maka, tidak ada yang bisa kita lakukan selain menghampiri Dia. Bicara dengan Tuhan. Luapkan perasaan Anda kepada Tuhan. Penyair kitab Ratapan ini beriman kepada Tuhan sebagai yang bertindak dan memerintah, meskipun sulit untuk mengerti segala sesuatunya. Kadang-kadang kita tidak mengerti jalan-jalan Tuhan tetapi bukankah kita percaya bahwa kita tidak akan ditinggalkannya? Artinya, dalam kegelapan pun kita cukup kuat bertahan. Tidak pura-pura kuat tetapi tahu bahwa Tuhan tidak meninggalkan Anda. Itulah perjalanan hidup orang beriman. Berserah dan percaya kepada Tuhan.

Jika sampai malam ini anda tidak mendapatkan jawaban Tuhan atas persoalan Anda, itu tidak berarti Tuhan tidak peduli. Kalau doa Anda rasa-rasanya tidak dijawab oleh Tuhan, itu tidak berarti Ia tidak mendengarnya. Tidak selamanya kita dapat melihat jalan Tuhan tetapi kita tahu siapa yang pegang tangan kita. Tuhan memegang tangan kita erat.

 

BERHARAP KEPADA TUHAN

Minggu, 26 Maret 2017

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab : Ratapan 1 : 1 – 19

Kitab Ratapan ditulis lerkail kehancuran kota Yerusalem, secara khusus Bait Allah. Kehancuran tersebut begitu menyedihkan dan memilukan hati seluruh umal dan bangsa Israel sebagai bangsa mitik Allah. Setiap orang yang menyaksikan kehancuran dahsyat yang menimpa kota, dan khusus Bait Suci, pasti akan meratap pedih karena tidak menyangka bisa terjadi. Mengingat Allah Israel adalah Allah yang hebat dan perkasa.

Habis sudah kejayaan dan semarak Yerusalem. Tidak ada lagi kebanggaan. Tidak tampak lagi kegemilangannya. Sejauh mata memandang, hanya puing reruntuhan yang menghiasi bukit Sion. Demikianlah perjalanan bangsa Yehuda yang dijungkirbalikkan oleh bangsa Babel. Hal yang paling menyedihkan ialah kehancuran Bait Suci yang dipahami sebagai suatu pembuktian bahwa dewa-dewa Babel lebih berkuasa daripada Tuhan, Allah Israel.

Dosa membuat hubungan Tuhan dengan manusia menjadi rusak. Yehuda menajiskan dirinya dengan kekafiran. Membenamkan diri di lumpur dosa. Bangsa Yehuda tidak lagi mengagungkan Tuhan tetapi memuliakan dewa-dewa. Tuhan, Allah Israel tidak lagi menjadi pusat hidup mereka. Sekarang Ia turun tangan dan seakan-akan tidak mengenal belas kasihan. Akibat dosa, bangsa Yehuda terpisah dari Tuhan. Itu berarti kehampaan. Tidak ada damai sejahtera, sukacita dan kebahagiaan. Alangkah tidak nyamannya hidup tanpa Tuhan. Keadaan terpisah dari Tuhan berarti keadaan tanpa harapan. Fatal. Dewa-dewa berhala tidak mampu memberikan pertolongan. Apalagi ketenangan.

Adalah hal yang menarik. pada ayat 18a dikatakan, “Tuhanlah yang benar, karena aku telah memberontak terhadap firman-Nya”. Benar, kalau Tuhan menghukum itu karena penduduk Yehuda memberontak melawan kehendak-Nya. Tuhan memang punya alasan untuk menghukum bangsa Yehuda namun pengampunan juga la curahkan. Kesempatan bertobat la berikan. Tuhan punya berbagai cara untuk mengingatkan atau menegur kita. Tuhan tidak menginginkan kita terus menerus hidup dalam kekalahan. Mari bergantung dan berharap hanya pada Tuhan. Pintu pengampunan selalu terbuka dan tangan-Nya siap menyambut saudara dan saya.

 

MEMBELA ALLAH ATAU DIBELA ALLAH?

Sabtu, 25 Maret 2017

Renungan Malam

Bacaan Alkitab : Hakim-Hakim 6 : 25 – 40

Ketika Gideon menerima tawaran untuk berperang dia mendapatkan kekuatan melakukannya. Awalnya Gideon ragu. Setelah bukti-bukti yang diminta meyakinkan untuk maju atas nama Tuhan maka Roh Tuhan menguasainya. Artinya, Gideon kuat karena Tuhan.

Berbeda dengan Baal. Walaupun Yoas, ayah Gideon, menantang agar dewa Baal itu membela diri melawan orang yang merobohkan mezbahnya tetapi tak ada reaksi sedikitpun karena dia benda mati yang tak punya kekuatan. Orang yang menyem-bahnya yang telah membuat dia kuat dan besar bukan dewa Baal itu sendiri. Bila tak ada lagi yang menyembahnya maka tak ada lagi kekuatannya. Dia tak berkuasa bila dibandingkan dengan Tuhan yang mahakuasa yang kini disembah Gideon. Para penyembah berhala telah membutakan mata iman bangsa Israel ketika mereka ragu dan tidak setia kepada Allah. Hanya karena anugerah dan kasih-Nya, maka Allah memperhatikan penderitaan umat-Nya dengan mengutus Gideon sebagai alat-Nya.

Gideon tak membela Tuhan agar berkuasa dia hanya menyembah-Nya dan membiarkan diri diatur dan dipimpin oleh Tuhan. Bila menyerahkan diri dipimpin oleh Tuhan kita mempunyai kekuatan menjalani kehidupan yang memberi kemenangan menghadapi segala pergumulan. Jadi, pilih yang mana? Pilih Tuhan yang terbukti mampu menolong untuk memberi keselamatan atau pilih Baal yang tak mempunyai kekuatan bahkan untuk membela dirinya sendiri? Sesungguhnya hanya Allah Yang patut kita puja dan sembah karena Dialah Tuhan yang memberi kekuatan dan keselamatan bagi kita yang percaya. Dialah pembela kita menghadapi pergumulan hidup. Mintalah Tuhan senantiasa hadir untuk memberi kekuatan menjalani hidup yang penuh perjuangan dan jangan andalkan yang lain yang tak terbukti.

 

TUHAN SELALU MENYERTAI, APA RESPON KITA?

Sabtu, 25 Maret 2017

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab : Hakim-Hakim 6 : 1 – 24

Menuduh Allah meninggalkan umat-Nya adalah suatu kekeliruan sebab Tuhan tak pernah meninggalkan kita. Dia setia pada janji-Nya. Kita yang sering menjauhi dengan tidak lagi melakukan perintah-Nya. Kita melakukan aktifitas sehari-hari tanpa ada hubungannya dengan Tuhan. Kita bertindak sesuka hati, padahal telah berjanji untuk setia dan taat kepada-Nya. Gideon mengatakan bahwa Tuhan tak bersama mereka lagi terbukti dengan adanya penderitaan atau pergumulan berat yang menimpa bangsanya. Padahal Tuhan selalu hadir dan mendampingi mereka namun mereka tak mampu merasakan kehadiran Tuhan karena mereka telah meninggalkan kehendak Tuhan.

Seringkali kita merasa bahwa Tuhan tak bersama kita karena pergumulan yang kita hadapi. Tentulah penderitaan tak selalu sebagai bukti kealpaan Tuhan dalam kehidupan kita. Tetapi sesungguhnya Tuhan selalu sedia dan ada disamping kita untuk menolong kita dalam menghadapi masalah yang ada. Namun kita sering tak menyadari dan tak memperdulikan kehadiran Tuhan. Ketika Dia memperingatkan kita akan hal yang tak patut kita lakukan dalam merespon atau menanggapi pergumulan, kita tak mempedulikannya malahan kita mematikan kepedulian Tuhan dalam kehidupan kita.

Namun ketika kita merespon kepedulian Tuhan yang memperlengkapi kita menjadi alat-Nya maka kita akan merasakan bahwa Dia memberi kekuatan. Rasakanlah kehadiran-Nya. Dia ada disamping kita untuk menolong dan menyelamatkan dan tau apa yang kita butuhkan saat susah maupun senang. Karena itu libatkan Tuhan dalam keseharianmu.

 

TUHAN BERJALAN DI DEPAN KITA

Jumat, 24 Maret 2017

Renungan Malam

Bacaan Alkitab : Hakim-Hakim 4 : 1 – 24

Sisera yang mempunyai 900 pasukan kereta perang yang besar dan dahsyat membuat Barakh takut berjalan sendirian tanpa penyertaan Debora. Mungkin awalnya Debora juga takut namun karena yakin penyertaan Tuhan bahwa itu perang Tuhan melawan musuh Israel maka dia juga mau maju. Sisera mati di tangan perempuan yakni Yael, mau mengatakan bahwa bila sedia menjadi alat Tuhan maka kita akan diberi kemenangan. Yael sendiri yang memilih memihak kepada Israel tentu karena peran Tuhan yang menggerakkan.

Rintangan atau hambatan dalam perjalanan hidup sering membuat kita tak berani menghadapinya. Kita sendiri menyaksikan orang lain yang kalah dan kekuatan kita lebih kecil dibanding mereka membuat kita tak berani melangkah. Padahal kita harus terus berjalan menghadapi perjalanan yang Tuhan percayakan. Hanya dengan penyertaan Tuhan kita mampu, sebab bila Dia di depan kita siapakah yang berani berhadapan dengan kita. Kebenaran iman ini seringkali hanya menjadi teori tetapi tidak dapat diaplikasikan. Pikiran kita tidak tertuju pada kuasa Allah yang dapat mengatasi segala sesuatu dan memberikan kemenangan. Pikiran kita dilemahkan karena ketakutan yang dibangun sendiri.

Kemenangan orang percaya dapat diperoleh karena mengandalkan Tuhan sebab hanya Tuhan yang mampu menghadapi musuh untuk memberi kemenangan bagi kita. Karena itu, mari bersedia berjalan bersama dengan Dia. Tanpa Dia kita gagal karena besar musuh yang menghadang. Mari menghadapi hidup dalam pimpinan-Nya. Dia di depan dan kita yang hanya mengikuti perintah-Nya saja akan memberi keberuntungan dan keberhasilan bagi kita. Artinya, kita harus sungguh-sungguh terbuka pada pimpinan-Nya.