MENDENGAR, MENGERTI DAN BERBUAH

Rabu, 22 Februari 2017

Renungan Malam

Bacaan Alkitab: Matius 13 : 18 – 23

Ketika ditugaskan di wilayah Kalimantan Barat, pastori tempat tinggal memiliki tanah yang cukup luas sehingga bisa ditanami. Di bagian belakang pastori ditanami pohon singkong yang tumbuh subur dan baik; daunnya Iebat dan umbi singkongnya cukup besar. Berbeda dengan pohon singkong yang ditanam di bagian samping. Pertumbuhannya sangat Iambat dan hasilnya kecil. Apakah yang menyebabkan keduanya bertumbuh dan memiliki hasil berbeda? Tentu, keadaan tanah.

Kerumunan orang yang mengikut Yesus adalah generasi pertama yang mendengar lnjil dan banyak diantara mereka yang bingung bagaimana menanggapinya. Yesus berbicara tentang jenis lahan : keempatnya menerima benih yang sama, namun hanya satu yang menghasilkan panen. Ia membandingkan ini dengan 4 cara manusia menanggapi Injil. Pertama, mereka yang tidak menerima Kristus. Kedua, mereka yang menerima Injil namun tidak menggarami pertumbuhan iman. Firman Allah masuk ke pikirannya namun tidak masuk dalam hati. Orang-orang ini sangat antusias namun imannya kurang mendalam, sehingga akhirnya jatuh. Ketiga, mereka yang menerima Kristus tetapi jatuh dalam berbagai cobaan hidup tidak mengandalkan Tuhan.
Keempat, mereka yang meendengar Injil. menerimanya dan tumbuh imannya. Mendengar artinya menyediakan telinga dan hati untuk mendengarkan dengan sungguh. Menerima berarti menjadikan firman Tuhan sebagai pedoman hidup dan bertumbuh imannya menuju kepada hasil yaitu buah.

Bagaimana dengan kita? Kita masuk dalam kriteria ciri manusia yang mana? Apakah injil yang kita dengar itu menghasilkan sesuatu yang baik dalam kehidupan kita? Apakah kita mendengar Injil dan kita telah mengalami pertumbuhan iman? Atau selama ini kita hanya menjadi pendengar firman saja; dan belum menjadi pelaku firman? Mari manghasilkan buah-buah kebenaran dan keadilan dalam hidup kita sebagai wujud dari firman Tuhan yang kita dengar dan renungkan siang dan malam.

 

BENIH YANG TUMBUH DI HATI

Rabu, 22 Februari 2017

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab: Matius 13 : 1 – 7

Secara umum kita pasti mengetahui bahwa tempat terbaik untuk menanam benih adalah tanah yang baik dan subur; bukan di jalan, bebatuan maupun disemak duri. Yesus, dalam pengajaran-Nya memberikan perumpamaan yang bersentuhan dangan kahidupan pendengar-Nya. Metode pengajaran Yesus sangat sederhana agar pendengar-Nya dapat mengerti dan memahami pangajaran yang disampaikan-Nya.

Matius menyampaikan bahwa Yesus sedang mangajarkan kepada orang banyak dan murid-murid-Nya tentang penabur yang menaburkan benih. Benih yang ditaburkan diumpamakan sabagai “firman tentang Kerajaan Allah” (ayat 19). Penaburnya adalah Yesus sendiri. Tanah adalah hati setiap orang yang datang mendengar firman-Nya. Pekerjaaan sebagai penabur mau menyatakan bahwa pekerjaan Yasus berbeda dengan pemahaman dan harapan orang Yahudi bahwa Mesias adalah raja yang perkasa yang mampu mengalahkan musuh orang Israel. Pekerjaan Yesus tidak akan sia-sia. Meskipun kanyataannya bahwa tidak samua benih berhasil; ada juga yang gagal. Namun, dipastikan akan ada panen yang besar (ayat 8). Artinya, akan ada tantangan besar dari pihak orang Yahudi terhadap pemberitaan Yesus, namun pekerjaan-Nya tidak akan sia-sia.

Allah telah memberi kesempatan kepada kita untuk menerima “benih” yang Yesus taburkan di dunia. Allah ingin agar benih yang sudah ditabur dapat tumbuh dan berbuah lebat. Persoalannya adalah di tanah bagaimana benih itu jatuh? Pinggir jalan? Batu-batu? Semak duri? Atau tanah yang baik? Keempat lahan ini merupakan gambaran hati kita ketika mendengar firman. Kita mendengar firrnan tetapi asal saja mendengar maka firman Tuhan akan lenyap. Kila mendangar firman Tuhan, tetapi tidak berakar dalam di hati, maka tumbuh sabentar lalu mati. Kita mendengar firman, tetapi selalu takut dan kuatir Karena beratnya cobaan dan tekanan maka firman Tuhan akan mati. Jadilah tanah yang baik bagi firman Tuhan, dan hasilkan buah lebat dalam hidup kita.

 

UCAPAN = LUAPAN HATI

Selasa, 21 Februari 2017

Renungan Malam

Bacaan Alkitab: Matius 12 : 22 – 37

Berbicara tanpa berpikir lebih dulu adalah seperti berrnain senjata penuh peluru. Ketika senjata meletus dan melukai seseorang terjadilah kerusakan. Kita bisa menelusuri kearah mana peluru tersebut, narnun kita tidak dapat rnemperbaiki kerusakannya. Pernahkah kita melukai perasaan seseorang dengan kata-kata ceroboh lalu menganggapnya sebagai urusan mereka karena terlalu sensitif? Pernahkah kita menyebarkan gosip tentang seseorang dengan membumbui ceritanya?

Orang Farisi dan ahli Taurat adalah perumus dan penjaga hukum. Mereka adalah angguta masyarakat terhormat. Namun Yesus mengritik mereka dan menyebut mereka keturunan ular beludak. Kaurn Farisi suka mengesankan orang dengan doa yang panjang serta praklek keagamaan di depan umum. Mereka sibuk menjaga kesalehan secara Iahinahnya, sementara batinnya busuk. Mereka suka menghakimi dan memegahkan diri. Mereka adalah guru-guru agama, namun mereka tidak mernbimbing orang agar lebih dekat kepada Allah, melainkan sekadar memamerkan kerohanian. Mereka mengucilkan para pendosa, namun buta tarhadap dosanya sendiri. Orang Farisi pandai mengajarkan hukum Taurat namun perbuatannya tidak sesuai dengan pengajarannya. Tidak mengherankan jika Yesus lebih berpihak kepada orang berdosa, pemungut cukai dan pelacur dari pada kaum Farisi.

Menipu diri sendiri adalah musuh yang Iicik. Kits mungkin berpikir bahwa kita sedang membohongi orang lain dengan kegiatan rohani kita, namun biasanya kita yang tertipu. Di saat-saat tidak terjaga, amarah kita meluap dalam kata-kata yang menyakitkan sesama. Tak ada gunanya membuang-buang tenaga untuk mengatakan segala hal yang benar jika hati kita tidak benar dengan Yesus. Kita peru membenarkan hati kita di hadapan Allah, maka hal-hal yang baik pun akan muncul dengan sendirinya. Allah akan menolong mengendalikan Iidah kita. Mulailah memilih kata-kata dengan biijaksana, maka kita tidak akan menyesal kelak.

 

BERHARAP HANYA PADA YESUS

Selasa, 21 Februari 2017

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab: Matius 12 : 15b – 21

Seorang pemuda yang sukses dalam karir, tiba-tiba divonis bahwa hidupnya hanya tinggal 3 bulan karena penyakit kanker yang diderita. Kabar ini membuatnya shock dan ia meninggalkan pekerjaannya. la merasa bahwa hidupnya tidak berarti. Ia menjadi pendiam, apatis dan menjadi seorang yang mudah marah. Ia tidak Iagi memiliki semangat untuk hidup. Namun ibunya tetap gigih untuk merawat, menjaga dan mendampinginya di masa-masa sulit. Suatu ketika ia bertanya kepada ibunya ;”Apa yang membuat mama tetap semangat menghadapi masa sulit seperti ini?”. Dengan singkat ibunya menjawab” Yesus, nak. Hanya Yesus yang membuat mama bisa kuat sampai saat ini.” Setelah percakapan singkat itu. sang pemuda itu makin tekun mengikuti masa pengobatan dan la kembali ke pekerjaannya. Ia tidak lagi menjadi pemarah dan apatis. Ia tampil sebagai pribadi yang optimis di tengah pergumulan sakit penyakitnya.

Matius menyampaikan bahwa walaupun Yesus telah menyingkir dari keramaian, namun banyak orang tetap mengikuti-Nya. Mengapa? Bagi mereka, Yesus adalah harapan hidup. Penyembuhan yang dilakukan Yesus menakjubkan banyak orang. Matius mengacu pada Yesaya 42:1-4 di mana Yesus bekerja acara tenang dan kadang-kadang agak sembunyi-sembunyi. Yesus bekerja dengan tidak memakai kekerasan bahkan kadang-kadang menyingkir dari musuh-musuh-Nya. Ia tidak mencari perbantahan yang hebat dengan orang Farisi {ayat 19). Ia bekerja di antara orang-orang yang sederhana. Seperti seorang hamba, Yesus tampil sebagai pribadi yang tidak berteriak-teriak dan memperdengarkan suaranya di jalan-jalan. la nadir sebagai pribadi yang penuh kasih. Ia menghibur dan menguatkan orang yang lemah (ayat 20). Ia memiliki perhatian yang besar terhadap orang-orang yang lemah, orang aakit dan orang yang berdosa.

Jika saat ini kita mengalami luka batin, kecewa, cemas atau sedang bergumul dengan sakit penyakit, ingatlah bahwa Yesus ada bersama-sama dengan kita. Ia telah datang untuk menghibur, menguatkan dan menolong kita.

JAUHI PERBUATAN FARISI

Senin, 20 Februari 2017

Renungan Malam

Bacaan Alkitab: Matius 12 : 9 – 15a

Ada dua ciri tingkah laku orang Farisi. Pertama, suka mencari-cari kesalahan Yesus. Kedua, memiliki hati yang beku. Ketika melihat orang stroke (mati sebelah tangannya) mereka bartanya kepada Yesus: “Bolehkah rnenyembuhkan orang pada hari Sabat?” Mereka ingin menemukan kesalahan Yesus karena tidak menghormati Hari Sabat.

Perjumpaannya dengan Yesus mendatangkan perubahan dalam hidup. Ia sembuh ketika ia bersedia mengulurkan tangannya kepada Yesus. Bagi orang Farisi, Yesus telah melanggar aturan Sabat Karena menyembuhkan orang itu. Dalam pandangan Farisi orang yang mengaiami penyakit yang membahayakan hidup bisa disembuhkan pada hari Sabat. Orang yang mati sebelah tangannya tidak berada dalam keadaan yang membahayakan. Jadi penyembuhannya harua ditunda.

Kasih yang Yesus nyatakan kepada orang yang sakit itu, tidak membuat orang Farisi merasa “tersentuh dengan kasih tetapi justru meraka semakin membenci Yesus dan merencanakan kematian Yesus. Hati mereka lelah membeku sehingga meraka tidak dapat mengerti pengajaran Yesus yang dalam dan sempurna. Sungguh memprihatinkan. Mengapa Yesus lakukan ini? Bagi Yesus manusia jauh lebih berharga dibanding domba. Yesus dalam kasih-Nya terpanggil untuk menolong orang yang menderita. Dengan tindakan-Nya, la menyatakan bahwa orang boleh berbuat baik pada hari Sabat.

Kita tidak dapat menapaki jalan Yesus tanpa perubahan pribadi. Jika kita mengklaim untuk mengikuti Dia tetapi hidup seperti orang Farisi maka kita memberi ruang kepada kejahatan dalam hidup kita. Mari kita jauhkan diri dari mencari-cari kesalahan orang lain agar hati kita tidak menjadi beku. Dengan demikian kita akan dimampukan untuk merasakan sentuhan kasih Yesus atas hidup kita. Jika kita mau, kita akan dimampukan menjadi saluran kasih Allah bagi sesama.

 

HATI YANG BERBELAS KASIH

Senin, 20 Februari 2017

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab: Matius 12 : 1 – 8

Kita memiliki kebiasaan dalam sehari tiga kali makan. Aturan ini merupakan hal yang lazim terjadi dalam kehidupan. Namun jika kita tidak memperhalikan kualitas makanan yang kita santap maka akan menimbulkan penyakit. Tubuh kita rentan terhadap penyakit oleh karena makanan yang kita asup didasarkan pada kepuasan jasmani tanpa mempertimbangkan akibat yang timbul. Awalnya makanan diasup agar kita menjadi sehat. Namun oleh Karena tujuan awal dari makanan yang kita asup sudah berbeda maka tubuh kila menghasitkan penyakit yang tak terduga.

Orang Yahudi taat melakukan seluruh hukum Taurat. Termasuk di dalamnya masalah hari Sabat. Bagi orang Yahudi, hari Sabat adalah han istirahat. Semua orang setelah bekerja selama 6 hari boleh beristirahat satu hari untuk beribadah dan mendengarkan Firman Tuhan. Narnun aturan itu diubah oleh ahli-ahli taurat den orang Farisi dengan memberikan 39 macarn pekerjaan yang tarlarang pada hari Sabat. Ketika rnurid-murid Yesus melanggar aturan tersebut, orang Farisi mempersalahkan mereka dan juga menegur Yesus karena membiarkan murid-murid-Nya melakukan hal tersebut. Jawaban Yesus jelas bahwa yang terpenting dalam menjalankan hari Sabat adalah memiliki hati yang berbelas kasih lerhadap sesama. Nilai daripada Sabat adalah kemanusiaan.

Yesus memberikan contoh konkrit dengan menyatakan bahwa Daud pernah melanggar aturan unluk makan roti yang menjadi bagian dari imam. Menurut Yesus, kemanusiaan lebih penting dari Hari Sabat Tuhan adalah kasih. Kasih seseorang kepada Tuhan diwujudnyatakan dalam kasihnya kepada sesama. Penjelasan Yesus membawa orang-orang Farisi agar selalu memperhatikan sisi kemanusiaan dari Sabat bukan hanya mengutamakan aluran yang hanya bersifat legal formal. Sabat menolong seseorang untuk memiliki hati yang berbelas kasih.

Kita dipanggil untuk bersekutu dan berjumpa dengan Allah. Milikilah hati yang berbelas kasih agar menjadi berkat bagi banyak orang.

 

MENJADI PRIBADI PEMBELAJAR

Minggu, 19 Februari 2017

Renungan Malam

Bacaan Alkitab: Matius 11 : 25 – 30

Paulo Freire, seorang pendidik di negara Brazillia menyatakan bahwa belajar itu membebaskan. Membebaskan seseorang dari rasa takut, kemalasan dan ketidakpengetahuannya tentang hidup. Belajar menjadikan seseorang memiliki wawasan luas yang memunculkan banyak inspirasi tentang kehidupan. Oleh karena itu, belajar bukanlah beban karena belajar menghasilkan kemerdekaan.

Konteks bacaan malam ini adalah orang Yahudi merasa letih lesu karena banyaknya peraturan. Ahli-ahii Taurat menentukan 613 peraturan yang harus diikuti oleh orang Yahudi yang taat kepada Tuhan. Hal itu merupakan beban yang berat. Yesus tampil dan menawarkan kelegaan. Yesus menyederhanakan hukum yang banyak dan memberatkan itu dengan satu hukum saja, yaitu Hukum Kasih. Menurut Yesus, inti dari hukum Tuhan adalah mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.

Yesus memanggil orang untuk belajar pada-Nya, sebab Ia lemah lembut dan rendah hati. Yesus lemah Iembut terhadap orang yang hina dan berdosa. Kerendahan hati Yesus berarti bahwa ia menaati Allah dan memohon pertolongan dari Allah saja. Berbeda dengan ahli-ahli Taurat yang bersifat sombong dan keras hati, memuliakan Tuhan dengan mulutnya, tetapi memiliki motivasi untuk menerima kehormatan dari orang lain. Yesus adalah Guru. Kita dapat belajar dari Yesus mengenai perkataan dan teladan-Nya. Yesus mengajari kita melalui Roh Kudus yang bekerja dalam hati kita. Hasil dari pembelajaran itu adalah ketenangan. Kerendahan hati dan kelemah Iembutan menghasilkan ketenangan. Mari kita menjadikan Yesus sebagai Guru hidup kita.

Menjadikan Yesus sebagai Guru menolong kita untuk menjadi pribadi yang selalu bersedia belajar untuk memusatkan seluruh perhatian kita kepada Sang Guru. Mata, telinga dan pikiran kita tertuju pada Sang Guru dan firman-Nya. Pribadi pembelajar akan tampil sebagai pribadi yang lemah Iembut dan rendah hati.

 

SENTUHAN KLASIK

Minggu, 19 Februari 2017

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab: Matius 8 : 14 – 17

Mel Ahyar adalah seorang desainer busana unik dan kontemporer. Ia berinovasi dalam berkarya untuk mempertahankan kualitas desainer. Desainnya merupakan kolaborasi seni klasik yang dikemas secara modern; menyentuh dan menginspirasi. Ia memadukan warna warna, sulaman tangan, tempelan perca untuk memberikan efek 3D terkait pengembangan budaya Palembang. Karya Mel Ahyar bermula dari imajinasi (head), kecintaan pada profesi (heart) dan diwujudkan dalam busana indah (hand).

Pelayanan Yesus juga diwarnai ketiga hal tersebut : berpikir (head) rasa (heart) dan sentuhan (hand). Pelayanan seperti ini tampaknya klasik. Namun dirindukan banyak orang. Matius menceritakan bahwa Yesus mengunjungi rumah Petrus dan menjumpai ibu mertua Petrus sedang sakit demam. Yesus mengetahui kebutuhan ibu mertua Petrus, yakni ingin sembuh. Yesus memegang tangannya. Sentuhan Yesus (ayat 15) menyembuhkan dan memberikan semangat kepada mertua Petrus untuk melayani. Sentuhan Yesus tampak klasik namun memberikan inspirasi dan semangat. Sentuhan-Nya menguatkan bahkan menggerakkan banyak orang untuk datang kepada-Nya. Mereka merindukan sentuhan klasik Yesus (ayat 16). Mengapa Yesus melakukan hal ini? Matius menginformasikan pada ayat 17: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita”. Yesus hadir dengan sentuhan klasik untuk menguatkan, menyembuhkan, menginspirasi, memberikan semangat dan harapan kepada setiap orang lemah, putus asa, kuatir dan susah.

Sekarang ini banyak orang, termasuk kaum perempuan lebih suka dengan sentuhan modern seperti: menyentuh Gadget, android, HP dan laptop. Mereka meninggalkan sentuhan klasik seperti dilakukan oleh Yesus. Mari tampil sebagai perempuan yang memiliki sentuhan klasik yang menguatkan, meneguhkan dan menopang kepada suami, anak–anak ataupun sesama. “Kita tidak dapat melakukan hal yang besar, tetapi kita dapat melakukan hal-hal yang kecil dengan cinta yang besar” (Bunda Teresa)

 

HIKMAT TUHAN = HADIAH DARI TUHAN

Sabtu, 18 Februari 2017

Renungan Malam

Bacaan Alkitab: Amsal 9 : 10 – 18

Dalam sukacita HUT Pelkat PKP, tadi pagi kita telah diajak memakai mulut untuk mengucapkan hikmat dan bukan gosip semata. Tentu ini baik, namun adakalanya ada ibu-ibu yang  mengatakan bahwa menahan mulut untuk mengatakan kalimat-kalimat yang digosok makin sip itu bukan sesuatu yang gampang. Ya, soalnya seru juga kalau dipancing membicarakan gosip. Atau ada juga yang mengatakan, kalau bukan gosip biasanya malah tidak seru. Lalu, bagaimana supaya kita tidak mudah tergoda oleh bujuk rayu gosip.

Firman Tuhan hari ini memberi cara bagaimana mengendalikan mulut kita dari ucapan yang tidak mendatangkan berkat, yaitu takut akan Tuhan. Dengan demikian, Tuhan memampukan kita menjalani hidup yang bijak dan bukan mengisi hidup ini dengan cemooh (ay.12). Dengan takut akan Tuhan, para perempuan akan menjadi perempuan yang mengucapkan hikmat; bukan menjadi perempuan bebal, cerewet yang tidak tahu malu (ay.13).

Dalam rangka melengkapi sukacita perayaan HUT PKP hari ini, mari merenungkan, sejauh mana kita telah mengandalkan Tuhan dan memohon hikmat-Nya setiap hari. Sudahkah kita mengawali dan rnengakhiri hari hidup kita dengan doa? Jika ya, apa yang kita doakan? Apakah kita hanya mendoakan hal-hal rutin yang kita ulang-ulang setiap hari? Atau kita juga berdoa agar Tuhan memakai kita dengan hikmat-Nya? Di tengah sukacita HUT PKP, kita menyadari bahwa peran perempuan sangat besar dalam keluarga, gereja dan masyarakat. Sebab itu, tetaplah para perempuan GPIB bersandar pada Tuhan agar sungguh-sungguh dapat menjadi pribadi berhikmat yang memuliakan nama-Nya.

Selamat bersyukur atas ulang tahun Pelkat PKP GPIB. Teruslah berdoa setiap hari; doakan mulut kita agar setiap hari ia mengucap berkat dan tidak lagi menyimpan perbendaharaan kata yang menjadi batu sandungan. Kiranya hikmat Tuhan menjadi hadiah bermakna yang tidak tergantikan di hari yang indah ini.

KARENA MULUT BADAN SEJAHTERA

Sabtu, 18 Februari 2017

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab: Amsal 9 : 1 – 9

Hari ini HUT Pelkat PKP. Oleh karena itu, kita akan memperhatikan bagian firman Tuhan yang menyoroti peran seorang perempuan dalam undangan hikmat. Disebutkan bahwa pelayan-pelayan perempuan disuruhnya berseru-seru (ay.3). Hal ini kontras dengan hikmat yang seringkali juga disebutkan berseru-seru di atas tempat-tempat yang tinggi di tepi jalan, di persimpangan jalan-jalan (bdk. 8:1-2). Dalam konteks budaya patriakhi saat itu yang memberikan peran penting pada laki-laki, hikmat juga menekankan pentingnya peran perempuan. Tidak hanya perempuan biasa tapi juga perempuan pelayan. Boleh dikatakan, jika perempuan saja sudah ada di kelas yang lebih rendah dari laki-laki, apalagi jika perempuan itu pelayan, tentu ia dianggap bukan siapa-siapa di tengah kehidupan masyarakat. Namun, undangan hikmat juga menyapa para perempuan yang dianggap bukan siapa-siapa saat itu. Hal ini menunjukkan bahwa seorang perempuan dalam status yang paling rendah sekalipun memiliki peluang untuk menjawab undangan hikmat. Jadi, hikmat bukan hanya dimiliki oleh orang dengan status sosial tinggi, kaya raya dan berjabatan tinggi. Siapa saja bisa memilikinya.

Kaum perempuan semestinya menjadi “agen” penyampai hikmat. Jika biasanya perempuan dikenal dengan kemampuan mulut yang sangat pandai beradu pendapat, kali ini hikmat mengundang mulut perempuan untuk mengucapkan hikmat. Jadi, bukan gosip yang keluar dari mulut kita, apalagi menyakiti perasaan orang-orang di sekitar dengan kata-kata kita. Kita diundang untuk menjadi berkat dalam ucapan kita sehari-hari sehingga melaluinya setiap orang akan memuliakan nama Tuhan.

Dengan demikian, jika pepatah mengatakan karena mulut badan binasa, maka perempuan GPIB mesti menunjukkan hal yang sebaliknya, karena mulut badan sejahtera. Selamat HUT Pelkat PKP GPIB, jadilah perempuan-perempuan berhikmat yang terus menjadi saluran berkat Tuhan, kini dan seterusnya!