MURKA TUHAN KEPADA ISRAEL

Jumat, 2 Desember 2016

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab: Yesaya 9 : 7 – 20

Tuhan telah melontarkan firman-Nya kepada Yakub dan firman-Nya itu menimpa Israel (ay.7). Disini diingatkan bahwa firman Tuhan itu bekerja efektif. Ada 4 firman yang dilontarkan Tuhan (lihat 9:7 – 10:4) dan keempat firman itu diakhiri dengan kalimat yang sama sebagai refrein, yaitu “Sekalipun semuanya ini terjadi, murka-Nya belum surut, dan tangan-Nya masih teracung” (9:11; 9:16b; 9:20b; dan 10:4). Bencana belum surut dan akan terus-menerus menimpa Israel selama mereka tidak bertobat.

Pertama, karena kecongkakan Israel Utara (lihat ay. 8-10), maka Tuhan akan membangkitkan Rezin dan menggerakan musuh-musuhnya (Aram dan Filistin) untuk melawan mereka. Kedua, para pemimpin politik dan agama akan dikerat (ay. 13-14), karena mereka penyesat dan yang mereka pimpin menjadi kacau. Ketiga, kefasikan terus menjalar seperti api (ay. 17a) sehingga semua orang menjadi fasik, maka Tuhan mendatangkan bencana: tanah negeri habis terbakar, umat hidup saling membinasakan satu terhadap yang lain. Ketiga bencana hukuman Tuhan ini sudah cukup menghancurkan kerajaan Israel Utara, dan itu terjadi pada tahun 721SM akibat serbuan tentara Asyur.

Firman Tuhan tidak akan pernah kembali kepada-Nya dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Dia kehendaki (lihat Yes. 55:11). Firman Tuhan itu kreatif karena memiliki kuasa di dalam dirinya sendiri. Jika tertulis bahwa orang yang berbahagia ialah mereka yang mendengar firman Tuhan dan melakukannya, maka hal itu sungguh benar dna pasti akan terjadi. Jika tertulis bahwa celakalah orang yang mengandalkan apapun di luar Tuhan, maka hal itu sungguh benar dan pasti akan terjadi. Karena itu, hendaklah kita sungguh-sungguh menjadi pendengar dan pelaku Firman Tuhan yang setia

TERANG TELAH BERSINAR

Kamis, 1 Desember 2016

Renungan Malam

Bacaan Alkitab: Yesaya 8 : 23 – 9 : 6

Keadaan Yehuda telah berkembang begitu rupa, sehingga dikatakan bahwa bangsa Yehuda “berjalan dalam kegelapan” dan “berjalan di negeri kekelaman” (ay. 1). Artinya, bangsa Yehuda hidup dalam dosa dan kejahatan, sehingga di Yehuda tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan, melainkan tanda-tanda kematian.

Akankah keadaan tetap gelap? Tidak! (8:23). Mereka akan melihat terang besar (ay.1). Umat akan bersukacita, sebab Tuhan akan melepaskan semua bebannya dengan mematahkan  para penindas serta melenyapkan seluruh peralatan perang (ay. 2-4). Sebab akan datang seorang mesias raja yang namanya disebut orang: “Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai” (ay.5). Gelar-gelar itu menunjukkan bahwa mesias yang akan datang itu adalah raja yang bijaksana, kuat, mengayomi dan membawa damai. “Besar kekuasaannya dan damai sejahtera tidak berkesudahan di atas takhta Daus dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkannya dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran” (ay. 6). Dua hal dikatakan sekaligus tentang raja yang akan datang itu, yaitu kualitas pribadinya dan kualitas pemerintahannya.

Di satu sisi nabi Yesaya ini merupakan penolakan Allah atas raja-raja Yehuda yang jahat dan di lain sisi merupakan citra ideal bagi raja mesias yang diharapkan. Seorang raja hendaknya memerintah dengan keadilan dan kebenaran; ia harus kuat perkasa; ia harus mengayomi rakyat; ia harus melakukan rekonsiliasi nasional dna menjalin hubungan baik dengan bangsa-bangsa lain. Jika raja memerintah sesuai dengan kehendak Allah, maka masyarakat akan hidup damai sejahtera. Siapakah mesias raja yang dinubuatkan itu? Gereja mula-mula yakin bahwa nubuat ini digenapi dalam Yesus Kristus, yang kelahiran-Nya kita rayakan di Hari Natal.

TAKUTLAH AKAN TUHAN

Kamis, 1 Desember 2016

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab: Yesaya 8 : 11 – 22

Tuhan mengingatkan nabi Yesaya untuk tidak mengikuti tingkah laku raja Ahas dna umat Yehuda. Ia juga mengingatkan nabi Yesaya untuk tidak merestui kesepakatan yang dibuat oleh raja, untuk tidak takut dan gentar terhadap apa yang mereka takuti (yaitu raja Pekah dan raja Rezin) dan janganlah gentar melihatnya. Sebaliknya Tuhan firman kepada nabi Yesaya untuk menganjurkan umat supaya mengakui serta takut dan gentar akan Tuhan semesta alam, Yang Kudus, sebab Ia akan menjadi tempat kudus (perlindungan yang aman), juga batu sentuhan dan batu sandungan  bagi kedua kaum Israel (Yehuda dan Israel Utara), dan jerat dan perangkap bagi penduduk Yerusalem.

Firman ini harus disimpan, dalam arti Tuhan menyembunyikan diri-Nya bagi bangsa Yehuda. Tuhan mengingatkan Yesaya untuk tidak mengabulkan permintaan bangsa Yehuda mencari petunjuk kepada arwah-arwah dan roh peramal. Sebaliknya, Tuhan meminta agar umat mencari pengajaran dan kesaksian. Siapa saja yang bersaksi, tetapi jika kesaksiannya berbeda dengan firman ini, maka mereka akan mengalami masa depan yang gelap.

Secara teologis dapat dikatakan bahwa masa depan seseorang itu ditentukan oleh Tuhan sesuai sesuai dengan apa yang dilakukannya di masa kini. Karena itu muncullah ungkapan ini: “Roh Kudus hanya menolong orang yang menolong dirinya sendiri”. Bacaan Alkitab ini menegaskan bahwa masa depan Israel hanya ada di tangan Tuhan, karena itu ketaatan kepada Tuhan dan firman-Nya menjadi sangat penting. Dalam keyakinan inilah kita memperingati Hari AIDS sedunia pada hari ini. AIDS bukan masalah medis semata-mata, tetapi juga berkaitan dengan masalah moral. Karena itu, marilah kita takut akan Tuhan dan menjadi manusia secara moral taat kepada-Nya.

UMAT TUHAN DIHUKUM (?)

Rabu, 30 November 2016

Renungan Malam

Bacaan Alkitab: Yesaya 8 : 5 – 10

Tanda yang diberikan tentang musuh-musuh Yehuda itu (ay. 1-4) akan mendatangkan bencana juga bagi Yehuda. Serbuan dan penjarahan Asyur itu tidak hanya terbatas kepada Damsyik dan Samaria saja, tetapi juga akan menjalar ke negeri Yehuda. Mengapa? Karena Yehuda takut kepada Rezin dan anak Remalya (yaitu Pekah), maka mereka “telah menolah air Syiloah yang mengalir lamban”.

Air Syiloah itu sangat kecil jika dibandingkan dengan sungai Efrat. Dahulu air Syiloah itu telah memenuhi kebutuhan air bagi penduduk Yerusalem dan air itu sekarang telah dialihkan oleh raja Ahas. Air Syiloah yang kelihatan lamban itu menunjuk secara simbolis kepada keteguhan dan kesentosaan umat di dalam Tuhan di tengah dunia yang bergolak. Sedangkan sungai Efrat yang mengalir deras dan meluap menunjuk secara simbolis kehebatan Asyur. Rasa takut  kepada Pekah dan Rezin mendorong Ahas meminta bantuan Asyur dan mengabaikan segala tanda yang diberikan oleh Tuhan. Betul, Asyur dapat menghancurkan musuh-musuhnya (Aram dan Israel Utara), tetapi Yehuda akan menjadi negeri taklukan Asyur dan harus membayar pajak yang tinggi. Kejadian ini diibaratkan dengan meluapnya air sungai Efrat yang bukan hanya menggenangi Samaria dan Damsyik, tetapi juga meluap sampai ke Yerusalem. Akan terjadi bahwa semua rencana dan keputusan raja Rezin dan raja Pekah tidak terlaksana, sebab Tuhan menyertai umat Yehuda yang percaya kepada tanda Imanuel itu.

Penyerbuan Asyur, baik kepada Aram dan Israel Utara maupun kepada Yehuda, dinyatakan merupakan alat di  tangan Tuhan untuk menghukum Yehuda dan musuh-musuh-Nya. Tuhan adalah Allah semesta alam, Ia dapat memakai bangsa manapun untuk mewujudkan rencana-Nya.

TANDA KEPADA MUSUH

Rabu, 30 November 2016

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab: Yesaya 8 : 1 – 4

Setelah Tuhan memberi tanda kepada raja Ahas, agar dia tenang tanpa takut, maka Tuhan juga memberi tanda akan kehancuran musuh-musuh Yehuda, yaitu kerajaan Aram dan ISrael Utara. Tanda itu berupa perintah menulis ungkapan “Mahe-Syalal Hash-Bas” (artinya “jarahan-segera rampasan-cepat”) di sebuah batu dengan 2 orang saksi, yaitu imam Uria dna Zakharia bin Yebeteriku. Kemudian nabi Yesaya akan menghampiri isterinya; dia kan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang dinamai “Mahe-Syalal Hash-Bas”. Dan sebelum anak itu tahu memanggil bapa dan ibunya, maka terjadilah bahwa kekayaan Damsyik dan jarahan Samaria akan diangkut di depan raja Asyur atau kedua kerajaan (Aram dan Israel Utara) akan dihancurkan dan dijarah oleh bangsa Asyur.

Melalui tanda ini Tuhan menegaskan bahwa kerajaan Aram (di bawah pimpinan raja Rezin) dan kerajaan Israel Utara (di bawah pimpinan raja Pekah) yang bermaksud untuk menyerang Yerusalem dan Yehuda tidak perlu ditakuti oleh Ahas, raja Yehuda. Pesannya ialah agar Ahas jangan buru-buru melakukan tindakan politik untuk menghadapi kedua musuhnya itu dengan meminta bantuan bangsa Asyur yang kelak nanti akan merugikan kerajaan Yehuda juga.

Tanda tersebut menegaskan agar Ahas hendaknya menghadapi rencana Rezin dan Pekah untuk memerangi Yehuda dengan sikap tenang tanpa takut dan panik; melainkan bertobatlah dengan takut akan Tuhan, serta percaya dan andalkan Tuhan. Yesus yang telah dimuliakan itu telah bersabda kepada jemaat di Laodikia bahwa akan ada sukacita ilahi bagi setiap orang yang mau membuka pintu rumahnya bagi Tuhan sehingga Dia masuk ke dalamnya (lihat Why. 3:20).

TANDA BAGI RAJA AHAS

Selasa, 29 November 2016

Renungan Malam

Bacaan Alkitab: Yesaya 7 : 10 – 25

Pada umurnya orang-orang Yahudi mencari tanda untuk menjadi dasar kepastian akan sesuatu. Tuhan mau meyakinkan raja Ahas bahwa apa yang dikatakan-Nya itu pasti benar agar ia tenang tanpa takut. Tuhan menawarkan sebuah tanda kepada raja Ahas, tetapi sang raja menolaknya dengan alasan bahwa dia tidak mau mencobai Tuhan.

Namun demikian, Tuhan tetap akan memberi juga sebuah tanda kepada Ahas. Tuhan memberi tanda kepada Ahas bahwa seorang perempuan muda akan melahirkan seorang anak laki-laki dan dia akan diberi nama Imanuel (Allah beserta kita). Ketika anak itu sudah tahu menolak yang jahat dan yang baik, maka kedua negeri yang rajanya mengancam menyerbu Yehuda akan menjadi kosong. Tuhan juga akan mendatangkan 4 bencana kepada Yehuda. Bukan saja musuh-musuh Yehuda akan dihukum oleh Tuhan, bangsa Yehuda selaku umat Tuhan pun akan dihukum, karena mereka tidak taat kepada Tuhan dan firman-Nya. Oleh sebab itu, Tuhan, Allah Israel, adalah Allah yang berkuasa atas bangsa-bangsa di dunia ini. Tuhan mengendalikan peristiwa politik dunia ini.

Ayat-ayat bacaan ini mendapat perhatian khusus bagi penulis Injil (lihat Mat 1:18-25 dan Luk 1:26-38). Matius dan Lukas memberitakan bahwa Yesus dilahirkan oleh seorang anak dara. Sedangkan Matius sendiri memberitakan bahwa anak laki-laki yang akan dilahirkan oleh Maria itu hendaknya dinamai Imanuel. Gereja mula-mula meyakini dengan pasti bahwa kelahiran Yesus dari anak darah Maria itu adalah Mesias, Anak Allah yang hidup, dan Juruselamat, yang sudah dinubuatkan oleh nabi Yesaya sejak dahulu kala. Tuhan itu setia pada janji-Nya kepada umat-Nya. Dia sudah datang! Dia adalah Imanuel! Allah besertaku di dalam Kristus, karena itu, tenanglah kini hatiku.

PERCAYA DAN BERSERAH PADA TUHAN

Selasa, 29 November 2016

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab: Yesaya 7 : 1 – 9

Konteks bacaan ini adalah saat Raja Ahas (raja Yehuda) ketakutan setelah mendengar bahwa Pekah (raja Israel Utara) dan Rezin (raja Aram) bersepakat untuk menyerbu Yerusalem di Yehuda. Nabi Yesaya menyampaikan firman Tuhan kepada Ahas untuk tenang dan tidak takut. Mengapa? Sebab kedua kerajaan itu tidak lama lagi akan lenyap bagaikan dua puntung api yang berasap.

Niat kedua raja itu tidak akan terjadi, demikian firman Tuhan. Lalu Tuhan menegaskan: “Jika kamu tidak percaya, sungguh, kamu tidak teguh jaya” (ay. 9b). Ungkapan ini menyatakan bahwa ada hubungan antara percaya dan mengandalkan Tuhan dengan hidup yang tenang tanpa takut. Barangsiapa yang sungguh-sungguh percaya dan mengandalkan Tuhan, maka dia akan hidup dengan tenang tanpa takut. Ketakutan raja Ahas dan umat Yehuda menandakan bahwa mereka kurang percaya dan kurang mengandalkan Tuhan. Dalam banyak hal mereka tidak mau melakukan kehendak Tuhan. Ketimbang mengandalkan Tuhan, maka raja Ahas mengandalkan manusia dengan meminta bantuan Tuglat Pileser III, raja Asyur.

Memang selaku orang Kristen yang hidup di dunia fana ini, kita tidak luput dari berbagai masalah kehidupan (penyakit, ekonomi, keluarga, dan lain-lain). Menyikapi masalah yang dihadapinya, maka banyak warga gereja mengambil jalan pintas untuk memecahkan persoalan tanpa mempertimbangkan iman percaya mereka kepada Tuhan. Yesus telah berfirman: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat 11:28). Hanya dengan sungguh percaya dan datang berserah pada Tuhan, kita dapat hidup dengan tenang tanpa rasa takut, sekalipun kita sedang dilanda oleh berbagai gelombang kehidupan.

MEMUJI DAN MENGANDALKAN TUHAN

Senin, 28 November 2016

Renungan Malam

Bacaan Alkitab: Mazmur  146 : 1 – 10

Pemazmur hendak memuji Tuhan selama ia hidup danmengajak umat untuk memuji Tuhan. Ia juga mengingatkan umat untuk tidak percaya pada para bangsawan dan manusia.

Ketika pemazmur menyatakan bahwa ia mau memuji Tuhan dan sehubungan dengan itu ia mengingatkan umat Tuhan untuk tidak percaya pada para bangsawan dan manusia pada umumnya. Mengapa? Sebab,  baik para bangsawan maupun manusia tidak dapat memberi keselamatan. Jika mereka mati, maka saat itu lenyaplah maksud-maksudnya. Menurut pemazmur bahwa memuji Tuhan dan mengandalkan manusia adalah dua hal yang saling bertentangan. Tidaklah mungkin kit amemuji Tuhan, namun hidup mengandalkan manusia semata-mata. Memuji Tuhan hendaknya diwujudkan dengan hidup mengandalkan dan berharap kepada Tuhan.

Jika pemazmur memgingatkan umat untuk tidak mengandalkan para bangsawan dan manusia, lalu, sikap yang bagaimanakah yang ia anjurkan bagi umat? Ia menyatakan bahwa berbahagialah ornag yang percaya kepada Tuhan, Allah Yakub, dan berharap kepada-Nya. Mengapa? Sebab, Tuhan itu Pencipta yang mahakuasa, Penolong, Setiawan, Pengasih, Pembebas yang adil, dan Raja untuk selama-lamanya.

Mengapa umat diajak untuk percaya dan berharap kepada Tuhan? Di dalam Kristus, Tuhan itu adalah Bapa, Yang Maha Kuasa. Sebab itu, Tuhan adalah Allah yang maha kasih dan mahakuasa. IA adalah Allah yang berkuasa dan mengasihi. Mengasihi tanpa kuasa akan menjadikan seseorang tidak dapat berbuat apa-apa, sedangkan berkuasa tanpa kasih akan cenderung membuat seseorang menggunakan kuasanya dengan sewenang-wenang (ingatlah ungkapan ini: “power tends to corrupt” [“kekuasaan cenderung dikorupsi/dislaahgunakan”]).

TENANG DALAM TUHAN

Senin, 28 November 2016

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab: Mazmur  131 : 1 – 3

Di dalam bacaan Alkitab pagi hari ini, pemazmur mengibaratkan hubungan antara Tuhan dengan umat-Nya bagaikan hubungan antara ibu dengan anaknya yang disapih.

Pada umumnya saat ibu menyapih anaknya, maka si anak menolak dan melawan. Sejak si anak lahir, dia mendapat asupan makanan dari ibunya lewat air susu ibunya. Si anak merasa tenang dan damai ketika dia disusui oleh ibunya. Ketika si anak menangis, biasanya sang ibu menenangkannya dengan menyusuinya. Karena itu, dapat dimengerti mengapa si anak menolak dan melawan dengan berbagai cara ketika ia disapih oleh ibunya. Menyapih artinya berhenti menyusui si anak.

Pada usia tertentu si ibu harus menyapih anaknya, jika si ibu ingin anaknya bertumbuh secara normal. Si i bu tidak boleh menyerah kepada anaknya yang merengek-rengek agar tetap disusui. Demi perkembangan si anak, maka si ibu harus menyapih anaknya, sekalipun  si anak menolaknya karena mengusik ketenangannya. Bagi si anak disapih itu menyakitkan, namun bagi si ibu menyapi adalah demi pertumbuhan si anak, ia disapih demi cinta kasihnya terhadap si anak. Andaikan si anak sadar bahwa disapih adalah tanda kasih i bunya demi kepentingannya, maka seharusnya ia tidak akan menolak dan melawan, bukan?

Agaknya pemazmur mengalami berbagai persoalan hidup, karena itu sudah sepantasnya jika dia mengeluh, memberontak, dan gelisah. Tetapi pemazmur berkata: “Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku, seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya…”. Lalu, nyanyiannya ditutup oleh pemazmur dnegan mengajak umat: “Berharaplah kepada Tuhan”. Mengapa? Sebab Tuhan itu baik dan kasih adanya. Ia sungguh-sungguh mengasihi dunia dengan segala isinya di dalam melalui Yesus Kristus (lihat. Yoh.3:16-17).

MENANTI DAN BERHARAP AKAN TUHAN

Minggu, 27 November 2016

Renungan Malam

Bacaan Alkitab: Mazmur 130 : 1 – 8

Pemazmur berada di dalam jurang yang dalam, yaitu berada dalam kesusahan teramat berat tanpa pengharpaan. Dari sana pemazmur berseru atau berdoa kepada Tuhan dan ia berharap bahw Tuhan mendengar doa dan permohonannya.

Di dalam seruannya itu pemazmur mengungkapkan bahwa tak seorang pun yang dpat tahan terhadap penghakiman Tuhan. Jadi, ia sadar bahwa ia berdoa. Dosa-dosa itulah yang memishakan dia baik dengan Tuhan maupun dengan sesama manusia. Namun, ia yakin bahwa pada Tuhan ada pengampunan. Karena itu, ia menanti-nantikan dan mengharapkan Tuhan dan firman-Nya. Lalu, ia mengajak umat agar juga berharap kepada Tuhan, karena Tuhan itu kasih setia adanya dan membebaskan umat-Nya. Ia yakin bahwa Tuhan akan membebaskan umat-Nya dari penderitaan akibat dosa-dosanya.

Kita hidup di dunia yang fana ini, dimana kita kadang berada di dalam jurang yang dalam, entah itu karena dosa kita atau karena dosa orang lain atau karena bencana alam dan penyakit. Benar bahwa penderitaan tidak selalu akibat dosa (ingat kisah Ayub). Namun jika kita menderita, maka sudah seyogiayanya pertama-tama kita introspeksi diri, mungkin tanpa sadar kita telah berbuat dosa kepada Tuhan dan sesama.

Gereja sedang memasuki minggu-minggu Adven, 4 (empat) minggu berturut-turut sebelum hari Natal tiba. Gereja percaya bahwa apa yang diananti-nantikan dan diharapkan oleh pemazmur sudah digenapi di dalam dan melalui kedatangan (kelahiran) Yesus Kristus, dan akan disempurnakan kelak pada saat kedatangan-Nya yang kedua. Masa Adven mengingatkan gereja untuk bersiap diri menyongsong Natal dan untuk menantikan kedatangan Tuhan yang kedua kali. Berbahagialah orang yang menanti-nantikan Tuhan.